Kuasa Hukum Sudikerta akan Laporkan Penyidik Polda Bali ke Propam Mabes Polri


Andar Situmorang
Jakarta - Kuasa hukum mantan Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta, Andar Situmorang akan melaporkan dugaan  ketidak profesionalan penyidik Polda Bali ke Biro Pengawasan dan Penyidikan (Wassidik) Mabes Polri serta Propam Mabes Polri.

"Kita akan laporkan ini ke Propam dan Wassidik Mabes Polri secepatnya," tegas Andar Kamis (6/12/2018) malam.

Baca: Kepala BPN Jateng Resmi Dipolisikan

Andar menilai, kasus yang dihadapi kliennya tersebut terkesan dipaksakan dan tidak profesional dalam penanganannya.

"Ada dugaan tidak keprofesionalan penyidik Polda Bali dalam memeriksa kasus ini. Sehingga kami akan melaporkan penyidik Polda Bali ke Mabes Polri," kata Andar.

Baca: Andar: Penanganan Terhadap OPM Tanggungjawab TNI

Andar Situmorang saat berada di Wassidik Mabes Polri

Diketahui, Ketut Sudikerta resmi menyandang status tersangka dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan senilai Rp 150 miliar. Sudikerta berstatus tersangka berdasarkan laporan PT Maspion Grup Surabaya.

Penetapan tersangka Sudikerta terkait Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang dikeluarkan Subdit II Dit Reskrimsus Polda Bali, Jumat 30 November lalu. Dalam SP2HP menyatakan terhitung sejak Jumat (30/11), I Ketut Sudikerta resmi tersangka kasus dugaan penipuan dan penggelapan.

Dalam SP2HP yang ditandatangani Kasubdit II Dit Reskrimsus Polda Bali, AKBP Agung Kanigoro Nusantoro menjelaskan pasal sangkaan untuk politis Golkar ini.

Baca: Permohonan PK Mandeg 7 Tahun, Andar Sebut Pengadilan Tak Becus Kerja!

Diantaranya Pasal 378 KUHP dan Pasal 372 KHUP tentang pidana penipuan dan penggelapan, Pasal 263 ayat (2) KUHP tentang penggunaan surat palsu dan Pasal 3 UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

Disebutkan, kasus ini berawal tahun 2013 lalu saat Maspion Grup melalui anak perusahaannya PT Marindo Investama ditawarkan tanah seluas 38.650 m2 (SHM 5048/Jimbaran) dan 3.300 m2 (SHM 16249/Jimbaran) yang berlokasi di Desa Balangan, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung oleh Sudikerta.

Baca: Andar Minta Saber Pungli Sikat BPN Jateng

Tanah ini berada di bawah perusahaan PT Pecatu Bangun Gemilang, dimana istri Sudikerta Ida Ayu Ketut Sri Sumiantini menjabat selaku Komisaris Utama. Sementara Direktur Utama dijabat Gunawan Priambodo.

Setelah melewati proses negosiasi dan pengecekan tanah, akhirnya PT Marindo Investama tertarik membeli tanah tersebut seharga Rp 150 miliar. Transaksi pun dilakukan pada akhir 2013.

Baca: Andar Situmorang akan Laporkan Orang Ini ke KPK

Kurun waktu beberapa bulan setelah transaksi barulah diketahui jika SHM 5048/Jimbaran dengan luas tanah 38.650 m2 merupakan sertifikat palsu. Sedangkan SHM 16249 seluas 3.300 m2 sudah dijual lagi ke pihak lain. Akibat penipuan ini, PT Marindo Investama mengalami kerugian Rp 150 miliar.

Setelah diselidiki, terungkap Sudikerta berperan menawarkan tanah, membuat PT Pecatu Bangun Gemilang hingga membagikan uang hasil penjualan tanah tersebut.

Akan Penuhi Panggilan dan Laporkan Balik

Panggilan penyidik Polda Bali kepada I Ketut Sudikerta
Andar Situmorang memastikan kliennya akan memenuhi panggilan penyidik Polda Bali Senin (10/12/2018) nanti. Sebagai warga negara yang taat hukum, kata dia, dirinya akan mendampingi Sudikerta menghadap penyidik Polda Bali.

Selain menghadap penyidik, tegas Andar, dirinya akan membuat laporan balik kepada Alim Markus atas dasar laporan palsu yang diatur pasal 317 KUHP dengan ancaman pidana 4 tahun penjara.

Baca: Andar: Fadli Zon Jangan Banyak Nyiyir!

"Hari itu juga saya akan laporkan balik Alim Markus di Polda Bali," tegasnya.

Dirinya juga mempertanyakan, kasus kliennya yang baru seumur jagung langsung ditetapkan jadi tersangka.

Surat penetapan tersangka I Ketut Sudikerta dari Polda Bali 
"Baru 1,5 bulan klien kami dilaporkan sudah jadi tersangka. Ada apa ini, kok penyidik Polda Bali begitu semangat memeriksa kasus ini," terangnya.

Andar mengaku, dalam kaitan kasus ini seharusnya penyidik Polda Bali menerapkan Undang-undang (UU) Perseroan Terbatas (PT).

"Pak Sudikerta ini dikorbankan dari penyidik yang tidak profesional. Dia tidak ada urusan apa-apa dalam PT itu. Bagaimana dia bisa dia jadi tersangka," pungkasnya. (tan/gah)