Berebut Pramuria, 2 Orang jadi Korban Pengeroyokan


Nabire, PenaOne  - Dua orang wartawan asal Nabire masing-masing Rahim dan Priyono mengalami penganiayaan oleh 4 orang pria di depan Gapura Mako Detasemen Zipur 12/OHH Nabire, Minggu dini hari (27/1/2019) sekitar pukul 02.20 Wit.

Saat dikonfirmasi hal tersebut melalui pesan singkat, Kapendam XVII/Cend Kolonel Inf Muhammad Aidi, membenarkan informasi tersebut sesuai laporan yang ia terima.

Kapendam menjelaskan, persoalan tersebut bermula dari cekcok mulut antara korban Rahim dengan oknum TNI, Pratu AM di lokalisasi Samabusa. Cekcok tersebut karena memperebutkan pramuria bernama Lidia.

Pada tanggal 27 Januari, Minggu dini hari, Rahim didampingi korban lainnya yang juga wartawan atas nama Priyono, serta seorang saksi yang berprofesi sebagai Satpam, Yasin, menuju Mako Denzipur untuk berencana melaporkan hal tersebut kepada pimpinan Pratu AM.

Namun saat tiba di depan gapura Mako Denzipur, Pratu AM bersama 4 orang lainnya yang berasal dari PT. Kabel Optik berusaha mencegah korban melapor, sehingga terjadi perkelahian.

Akibat kejadian tersebut, Rahim mengalami luka lebam bagian mata kanan dan pelipis kiri lebam, luka robek garis di bawah mata kiri panjang 2cm, luka robek garis di atas telinga sebelah kiri dan Luka Lebam Pudak kiri.

Sedangkan Priyono mengalami luka lebam bagian mata kiri dan dan 4 jahitan dipelipis kiri, dan memar di pipi kiri.

Pukul 02.30 WIT pasi intel Denzipur 12/OHH Ltt czi Purwadi tiba di TKP dan mengamankan Pratu AM selanjutnya membawa korban ke UGD RSUD Nabire untuk mendapatkan perawatan.

Saat ini korban sudah keluar dari RSUD Nabire guna menjalani rawat jalan. Kedua belah pihak sudah dipertemukan dan masing-masing mengakui kesalahannya.

"Pelaku Praka AM saat ini sedang meringkuk di sel tahanan Provost Denzipur-12/OHH, Selanjutnya akan dilimpahkan ke Denpom dalam rangka menjalani proses hukum," katanya dikutip nabire.net.

Kapendam menegaskan bahwa peristiwa ini sangat menyayangkan masih adanya prajurit TNI yang keluyuran ke tempat lokalisasi, ini adalah prilaku yang sangat tidak terpuji dan tidak bermoral. 

"Institusi TNI tidak akan mentolelir hal tersebut. Yang bersangkutan pasti akan kami tindak keras sesuai proses hukum yang berlaku," terangnya. (gus)