Politik Lebay SBY Kambuh Lagi di Pekanbaru?


Oleh: Aznil Tan

Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY
SUSILO Bambang Yudhoyono (SBY) yang pernah menjadi presiden RI 2  periode adalah sosok  terkenal dengan politik lebay-nya.

Ketika era transisi demokrasi (1998-2004) dimana 32 tahun rakyat sudah terbiasa dipimpin oleh seorang  presiden dari kalangan  militer kemudian pada era reformasi beralih ke sipil (BJ Habibie, Gusdur dan Megawati).

Lalu SBY muncul mencuri panggung publik dan berhasil menjadi presiden RI terpilih secara langsung oleh rakyat karena latar belakangnya dari militer serta berwajah gagah. Sosok SBY dianggap menjawab sosok Gusdur yang secara fisik tidak menarik dan Megawati sosok perempuan yang haram jadi presiden oleh kelompok agama tertentu.

SBY dengan politik lebay-nya berhasil mendulang suara kemenangan menjadi orang nomor 1 di Indonesia 2014 dengan playing victimnya sebagai korban keangkuhan Megawati. Dan pada Pilpres 2009, SBY kembali terpilih sebagai presiden RI untuk periode 2009-2014.

Kemarin, tiba-tiba penyakit lebay SBY kembali kambuh lagi. Pada hari Sabtu, 15 Desember 2018, SBY yang sedang berada di Riau sejak hari Jumat dalam rangka pelantikan pengurus cabang Demokrat Prov. Riau turun ke lapangan mendatangi sebuah tempat di Pekanbaru karena atribut-atribut partainya disobek-sobek.

Sandiwara playing victim  pun dimulai.

Dengan wajah sedih, dia berkata :
"Ini menyayat hati. Ini ulah pihak-pihak tertentu atau masyarakat Riau, saudara kami, sudah berubah?"

Bak drama telenovela menyayat hati, SBY dengan lebay nya kemudian melanjutkan ratapannya.

"Lebih baik kita mengalah dan diturunkan daripada kita menyaksikan bendera kita, baliho-baliho yang tidak bersalah, dirobek, diturunkan, diinjak-injak, dibuang ke selokan. Sama dengan menginjak-injak saya, merobek saya, dan membuang saya ke selokan. Lebih baik kita mengalah, turunkan semua, hari ini"

Seharusnya saya mau menumpahkan airmata dan mengajak jutaan rakyat untuk mengadakan  Ratapan Massal terharu atas pernyataan lebaynya SBY. Namun air mata saya protes.

Sambil memegang bekas baliho yang disobek, dia tiba-tiba mengait-gaitkan Jokowi atas peristiwa itu.

"Saya ini bukan capres, saya tidak berkompetisi dengan Bapak Presiden Jokowi. Saya sebagai pemimpin Partai Demokrat berikhtiar, berjuang, dengan cara-cara yang baik, yang amanah, sesuai dengan yang diatur dalam konstitusi dan UU, tapi kenyataan ini yang kami dapatkan," sambungnya.

Waduh...! Pak Beye...pak beye....., kok Jokowi jadi sasarannya ? Kenapa menuduh Jokowi dan pendukungnya sebagai pelakunya?

Semua orang pada tahu bahwa bapak bukan capres karena aturan negara, bagi yang sudah menjabat 2 kali sebagai presiden tidak boleh lagi mencapres.

Jadi siapa yang mengatakan bapak sebagai kompetisi Jokowi pada pilpres 2019 nanti ?

Itu perasaan bapak saja! 

Ada 2 alasan bapak saya sebut lebay :
1. Kami pendukung Jokowi adalah generasi masa depan yang disatukan atas kesadaran bahwa perbedaan pendapat adalah sebagai anugerah terindah diberikan oleh Allah kepada umat manusia. Dan kami berkomitmen tinggi membangun peradaban modren dengan  terselenggaranya demokrasi yang sehat, membawa kemajuan dan tercipta kehidupan berdemokrasi ditengah masyarakat dengan penuh ceria dan riang gembira sebagai sesama anak bangsa yang hidup rukun dan damai.

Bentuk penghormatan perbedaan tersebut dengan memberi keteladanan sikap pada diri kami secara langsung dengan tidak memaksakan kehendak politik kepada seseorang apalagi mengunakan cara-cara merusak ataupun kekerasan.

2. Kami pendukung Jokowi menilai partai Demokrat adalah merupakan bagian dari kawan seperjuangan untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara modren dan berkemajuan dengan telah bergabungnya berapa kader-kader Demokrat mendukung pasangan Jokowi - KH. Ma'ruf Amin, termasuk di Riau.

Jadi  kunjungan Bapak ke Riau tidaklah suatu tandingan, karena partai peserta pemilu berhak memasang baliho partai dan caleg di tempat-tempat yang ditentukan sebagaimana telah diatur Undang-undang.

Berdiri pun semegah-megahnya baliho-baliho bapak tidak akan mengurangi marwah Jokowi sebagai Presiden RI datang ke Pekanbaru, apalagi Jokowi datang dalam rangka diberi gelar Datuk Sri Setia Amanah Negara oleh masyarakat adat Melayu Riau.

Jadi tidak beralasan bapak menuding perobekan baliho dan bendera partai bapak tersebut dilakukan oleh kubu Jokowi. Lalu mengait-gaitkan kedatangan bapak ke Pekanbaru, sebagai kompetisi Jokowi dalam pilpres nanti.
Apakah pendukung Jokowi setolol itu bapak anggap...?

Kami sebagai pendukung Jokowi atas perobekan baliho bapak tersebut sangat mendukung untuk diproses secara hukum dan mengusut tuntas siapapun pelakunya.

Sebenarnya, kamilah yang patut curiga. Ada apa perobekan baliho bapak dan sampai l turun ke TKP sambil berorasi?

Hanya orang-orang yang suka politik playing  victim lah membuat sandiwara seperti itu.

Maka kami kuat menduga, bahwa pola-pola seperti itu identik dengan politik bapak mainkan selama ini.

Himbauan saya. Akhirilah politik lebay bapak itu!
Masa dulu,  politik lebay memang laris-manis mempesona  jutaan rakyat.
Sekarang jaman now. Eranya sudah berubah.
Sekarang rakyat melihat sosok yang berprestasi. Pemimpin rendah hati dan sepenuh hati melayani.

Segeralah minta maaf dan mencabut pernyataan bapak itu.

Terimakasih

Penulis adalah Koordinator Nasional Poros Benhil dan aktivis pergerakan mahasiswa 98

(his/fad)
Reactions: 

Related

Bendera demokrat dirusak 4552036367607546583

Jokorner App


Terbaru

Populer

Comments

item