Jokowi "Dicuatkan" Keatas Oleh Aktivis Idealis (I)



 Dhia Prekasha Yoedha
ITULAH kelihaian  Joko Widodo atau Jokowi sebagai anak rakyat yang berhasil "dicuatkan" keatas oleh para aktivis idealis. "Dicuatkan" untuk menembus jejaring mafia konspirasi para oligarki.

Baik itu mereka oligarkis yang berada di sekitar lingkar pendukungnya maupun di lingkar para oposisi. Baik itu berupa oligarki dinasti, sipil, militer, agama, pengusaha dan sebagainya. Oligarki yang saling berpilin dan berkelindan mendominasi kehidupan politik ekonomi budaya di Indonesia sejak semasa Orba.

Sehingga anak rakyat ini melalui manuver dalam berselancar (menembus dinamika gulungan arus ombak yang terbentuk akibat proses dialektis antar grup dan kubu para oligarkis) diantara kelicikan jepitan dari kelompok kepentingan (yang coba terus mempertahankan status quo kekayaan tidak syah mereka hasil menjarah aset bangsa dan negara), Jokowi mampu mencipta kondisi agar mereka saling menelanjangi diri.

Tinggal kini bagaimana kekuatan sejati rakyat mampu bersikap jernih dalam menyikapi aksi kelompok busuk para oligarki yang berada/memanfaatkan kedua kubu 01 versus 02 demi kepentingan survival masing-masing oligarki.

Jadi kita jangan fanatis dungu. Melawan oligarki yang terbentuk kuat sejak Orba Soeharto memang tidak semudah ngoceh dengan ujaran-ujaran yang sok demokratis, sok transparan, sok HAM, sok ideologis.

Ini perkara taktis strategis yang butuh waktu dan kelihaian sendiri.

Upaya menjadikan Jokowi sebagai wali kota Solo yang kedua (untuk nanti harus segera menjadi gubernur meski hanya sejenak,) yang kita kompetisikan  juga dengan figur alternatif lain yang bersih dari noda Orba, itu adalah upaya strategis ideologis yang sudah lama dirancang oleh para aktivis grassroot demi memangkas kuasa hegemoni dari para oligarkis.

Cilakanya, banyak aktivis pragmatis yang semula bermotif taktis menempel di salah satu oligarkh malah larut terbeli oleh aset haram mereka.

Kuyakin manteman semua tahu. Tekad memperbaiki kehidupan  bangsa negara Indonesia lewat kebijakan potong satu dua generasi itu tak segampang kita ngomong. Perlu kecerdasan & kesabaran revolusioner tersendiri. Cermati saja kasus Tito di Polri dan atau kini Andika di TNI AD.

Ihwal ini perlu kita fahami betul, terutama sebelum kita memutuskan berselancar menunggangi arus.

Yang sama-sama idealis ada di kedua kubu, baik 01 maupun 02! Begitu pula yang sama-sama oportunis ada di kedua nya. Termasuk pula yang soleh beriman maupun yang munafik.

Nah jangan sampai pertarungan berbagai kepentingan politik ekonomi praktis ini merusak silaturahim kerukunan hidup kita bersama.

Elit oligarkis niscaya cenderung mengutamakan keselamatan aset mereka sendiri.

Oleh: Dhia Prekasha Yoedha Kriminolog dan pengkaji Ketahanan Nasional dari Universitas Indonesia (UI).




(yal/fik)
Reactions: 

Related

Tulisan Tajam 8532149527458722609

Jokorner App


Terbaru

Populer

Comments

item