Komnas Perlidungan Anak Buru Penyuruh Anak SD Nyanyi Lagu 'Pilih Prabowo-Sandi'


Arist Merdeka Sirait
Jakarta, PenaOne - Ketua umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengaku geram dengan viralnya anak-anak sekolah yang menyanyikan lagu 'Pilih Prabowo-Sandi' hari ini.

Menurutnya, sebagaimana dimaksud didalam Pasal 15 UU RI Nomor : 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor  23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta ketentuan Konvensi Internaional PBB tentang Hak Anak, video siswa sekolah dasar menyanyikan lagu 'Pilih Prabowo-Sandi' adalah bentuk penyalahgunaan anak dalam kegiatan politik.

"Memanfaatkan, menyalagunakan dan menyuruh anak untuk memilih salah satu pasangan calon presiden seperti yang terlihat dalam video itu jelas-jelas merupakan tindak pidana pemilu," kata Arist kepada PenaOne.com Senin (25/2/2019).

Dengan demikian, lanjut Arist, orang yang menyuruh anak-anak menyanyikan lagu 'Prabowo-Sandi' didalam kelas lingkungan sekolah dan dan menyuruh  mengacungkan jari tanda memilih pasangan 'Prabowo-Sandi' sudah dapat diancam dengan kurungan penjara.

Arist Merdeka Sirait lebih jauh menjelaskan, para siswa yang ada dalam video itu memakai seragam sekolah sambil bernyanyi dan menggerakkan tangannya di dalam sebuah ruangan. Ada pula siswa yang berpose dua jari membentuk jari seperti pistol. "Ayo kita pilih Prabowo Sandi".

"Ini telah membuktikan bahwa siswa dan siswi SD ini telah dimanfaatkan dan  disalahgunakan untuk kepentingan politik menjelang Pilpres April 2019".

"Siapapun yang menyuruh dan memanfaatkan kepolosan anak SD ini, apakah dia seorang guru, simpatisan paslon Presiden dan atau pendukung dan tim sukses paslon Presiden 2019 adalah tidak dibenar oleh ketentuan  hukum sebagaimana diatur dalam UU pemilu dan UU Perlindungan Anak. Berhentilah memanfaatkan dan menyalagunakan anak dalam kegiatan politik," ujarnya.

Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga independen yang bertugas dan berfungsi memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia meminta serta mendorong Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menggunakan kewenangannya sebagai badan pengawas pemilu untuk melakukan penelusuran atas beredarnya video ini untuk dijadikan bukti permulaan melaporkan tindak pidana pemilu ini kepada Polri.

Komisi Nasional Perlindungan Anak bersama tim investigasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) se nusantara segera melakukan penelusuran beredarnya video ini dan hasilnya akan dikordinasikan dengan Bawaslu untuk dijadikan bukti hukum tindak pidana  pemilu.

"Yang pasti  Komnas Perlindungan Anak tidak akan membiarkan prnyalahgunaan anak dalam kegiatan politik dan akan terus menelusur untuk memastikan  peristiwa ini," pungkasnya. (kil/daf)
Reaksi: 

Berita Terkait

KEKERASAN ANAK 5105116325991376788

Terbaru






close





Populer

Comments




item