Kubu Prabowo Ditantang Keluarkan Data



CEO Cyrus Network Hasan Nasbi terlihat tidak dapat menyembunyikan kekesalannya atas pernyataan pihak pihak yang tidak bertanggung jawab yang menuduh hasil quick count yang dilakukan pihaknya dan lembaga lain yang tidak sesuai dengan harapan mereka.

Ia menekankan meski lembaga survei ada kecenderungan suatu lembaga mendukung calon tertentu, tetapi saat menunjukkan hasil survei lembaga tersebut dituntut profesional.

"Hal yang mekhawatirkan, adanya tuduhan-tuduhan serampangan yang dikeluarkan orang orang yang mengatakan poling center (pollcenter) sedang menipu, ini berbahaya. Kemudian setelah dia mengeluarkan pernyataan tersebut dia mengeluarkan data versi poll center juga yang memenangkan dia, tadi dia konferensi pers begitu," tutur Hasan dalam konferensi persnya di Jakarta, Rabu (17/4).

Ia menekankan bahwa apa yang dilakukan kelompok tersebut sebagai sesuatu yang tidak fair. Menurutnya jika memang ada datanya Hasan menantang untuk diadu proses dan cara mengolahnya.

Ia mempertanyakan apakah lembaga tersebut betul ada, kantornya di mana, sumber daya manusianya ada atau tidak, kegiatannya terbuka atau tidak, serta diaudit seluruh prosesnya.

"Karena proses quick count itu tidak bisa bohong. Kami punya 2002 TPS sampling itu bisa dibuka semua. Mereka tidak bisa ngarang TPS nya di mana hasilnya berapa, mereka gak akan sanggup hingga 2002 TPS dengan titiknya di mana dan hasilnya berapa," tegas anggota dewan etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) tersebut.

Hasan mencontohkan perbedaan hasil poll center pada 2014 lalu dengan tiga lembaga survei yang memenangkan Prabowo tidak bersedia datang di audit. Menurut Hasan mereka tidak datang karena tidak mampu menunjukkan data titik TPSnya meski hasilnya berubah jauh.

"Hari ini itu kejadian lagi dan tidak belajar dari 2014 lalu, dan yang lebih fatal lagi ada yang lebih dulu deklarasi kemenangan tadi. Deklarasi kemenangan tanpa punya data, menuduh kita poll center dan konsultan yang melaksanakan quick count berpihak," tutur Hasan.

"Kalau kita bisa diaudit kapan saja. TPS nya dimana, hasilnya berapa, siapa orangnya di sana. dan itu tidak mungkin bisa ngarang, apalagi yang ngaku 5000 TPS, kalau kita paksa hari ini mengeluarkan datanya pasti tidak akan bisa, kalau kita berani tantang tantangan," lanjut Hasan dikutip mediaindonesia.

Hasan menilai jika ingin demokrasi Indonesia berjalan di jalan yang benar, semua pihak harus sportif dan hilangkan sikap sikap yang tidak sportif dan data data yang tidak bisa dipertanggungjawabkan bahkan mengklaim menang.

Sebagaimana diketahui berdasarkan hasil hitung cepat atau quick count Centre for Strategic and International Studies ( CSIS) dan Cyrus Network, Rabu (17/4) hingga pukul 18:37 WIB, pasangan calon Joko Widodo-Ma'ruf Amin memperoleh 55,5% dan pasangan calon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memperoleh 44,5% dalam Pilpres 2019. 

Perolehan tersebut merupakan angka dari laporan yang masuk sebesar 92,9% dengan kualitas random 99,8% dari total TPS sampel.

Sebelumnya, Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto mengaku berdasarkan hasil quick count yang dilakukan, pihaknya unggul dengan raihan suara 52,2%. 

Sebelumnya, pada exit poll yang dilakukan juga menunjukkan kemenangan dengan suara 54,4%.

"Hasil exit poll kita menunjukkan kita 55,4%. Hasil quick count kita menang 52,2%. Mohon semua relawan mengawal kemenangan kita di semua TPS dan kecamatan," kata Prabowo di Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/4). (das)


Reaksi: 

Berita Terkait

news 4374258897910156598

Terbaru






close





Populer

Comments




item