Pendiri Demokrat Jabar: Ferdinan Belum Ada Seujung Kuku Kepandaiannya dari Prof Mubarok


YAN Rizal Usman pendiri partai Demokrat provinsi Jawa Barat (Jabar) mengaku ragu jika profesor Ahmad Mubarok dan Max Sopacua akan diberikan sanksi lantaran 'menyemburkan' bola panas Kongres Luar Biasa (KLB), karena, keduanya adalah pendiri partai Demokrat dan telah berjasa bagi kejayaan partai berlambang Mercy ini.

Baca Juga: Ini Kata Profesor Subur Budhisantoso Soal KLB Partai Demokrat

"Pertanyaannya apakah Ketum, Komwas, Wanhor dan Wanbin berani memecat Prof. DR. Ahmad Mubarok dan Pa Max Sopacua?," kata Yan Rizal saat dikontak PenaOne.com Senin (17/6/2018).

Yan Rizal Usman bercerita, ketika AYW atau Ahmad Yani Wahid membuat dan merancang partai Demokrat serta disodorkan kepada pak SBY untuk menjadi Ketua umum pada tahun 2001 ditolak oleh SBY. Karena, SBY sebagai Menkopolkam harus tunduk dan loyal terhadap Presiden Megawati.

"Maka AYW bersama pendiri lainnya 99 orang mendirikan Partai Demokrat termasuk Prof. DR. Ahmad Mubarok dan Pa Max Sopacua dll sebagai pendiri," jelasnya.

Baca Juga: Pengamat: KLB Demokrat Sah-sah Saja Digelar

Yan Rizal mengatakan, para pendiri di daerah maupun pusat saat itu berdarah- darah membangun dan mendirikan partai Demokrat tidak kenal siang malam untuk meloloskan menjadi peserta Pemilu 2004.

Yan Rizal Usman
Dia pun mengaku sependapat dengan pendiri partai Demokrat di pusat yakni Hencky Luntungan.

"Betul apa kata bung Hengky bahwa SBY memohon diterima sebagai salah satu keluarga partai Demokrat pada tanggal 5 April 2003 di Rakornas pertama di Hotel Kinasian Bogor. Begitu juga keluarga dari SBY dimasukan sebagai Pengurus di DPP PD. Artinya keluarga datang dan masuk dengan keadaan yang sudah tersedia tidak ikut berdarah-darah," terang Yan Rizal.

Baca Juga: Politisi Senior Tuntut KLB Partai Demokrat

Yan Rizal pun mengingatkan sejatinya partai Demokrat adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Demokrat, ukan hanya milik sekelompok golongan maupun keluarga tertentu.

"Perlu diingat partai Demokrat milik rakyat indonesia. Kita-kita ini hanya diberikan kepercayaan oleh rakyat untuk mengurusnya," terang Yan Rizal.

Baca Juga: Pendiri Demokrat: Yang Dipecat Penumpang Gelap, Bukan Max dan Mubarok

Dia menjelaskan, pada tahun 2005 kepengurusan DPP hanya memiliki 1 Wakil ketua umum yaitu Prof. DR. Ahmad Mubarok seorang sufi yang diakui dunia tentang keilmuannya.

Hingga akhirnya, partai Demokrat sukses di semua perhelatan politik ditanah air pada pemilu dan pilpres 2009.  Bahkan, lanjut dia, perolehan suara partai Demokrat sempat mengalahkan partai Golkar.

Baca Juga: Arahan SBY: Besarkan Demokrat, Soal Capres Bebas

"Hasilnya partai Demokrat mencapai 22 persen nasional dan Golkar terjun bebas menjadi 11 persen nasional 2009. Dan SBY melenggang menjadi Presiden lagi. Itu prestasi Prof. Itu berkat 'jasa' pak Ahmad Mubarok salah satunya," tegas Yan Rizal.

Mubarok, kata Yan Rizal, juga sukses menghantarkan Anas Urbaningrum menjadi Ketua umum partai Demokrat mengalahkan pesaingnya saat itu.

"Pak Mubarok sukses menjadikan AU jadi Ketum tahun 2010 mengalahkan AM yan didukung keluarga Cikeas dan MA," ucapnya.

Baca Juga: Kader Demokrat Jawa Barat Persiapkan Dukungan Jokowi-Amin

Lantas, Yan Rizal mempertanyakan apa yang telah dilakukan segelintir orang di partai Demokrat yang meminta Max Sopacua dan Ahmad Mubarok dipecat.

"Apa prestasi Anda yang mengusulkan pemecatan Prof. Mubarok ?. Ferdinan belum ada seujung kuku kepandaiannya dari Prof. DR. Ahmad Mubarok," pungkas Yan Rizal Usman. (sis)

Reaksi: 

Berita Terkait

POLHUKAM 492428470419986555

Terbaru






close





Populer

Comments




item