2.000 Hektare Tanaman di Gunungkidul Terancam Gagal Panen



LAHAN tanaman pangan yang dipastikan gagal panen (puso) akibat kekeringan pada musim tanam II tahun 2019 di Kabupaten Gunungkidul meluas. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) mencatat hasil pendataan lapangan didapat tanaman pangan seluas hampir 2.000 hektare mengalami kekeringan akibat terdampak musim kemarau.

“Jumlah pastinya sedang kita lakukan pendataan dan data sementara ada 1.927 hektare tanaman pangan mengalami kekeringan,” kata Kepala DPP Gunungkidul Ir Bambang Wisnu Broto.

Terkait dengan musim kering pada kemarau tahun ini pihaknya terus melakukan pendataan. Dari data yang sudah diperoleh tersebut hampir bisa dipastikan sebagian besar luas lahan terancam puso.

Meningkatnya jumlah luasan tanaman pangan yang mengalami kekeringan tersebut mengejutkan karena dalam data awal hanya ditemukan sekitar 400 hektare. 

Tetapi seiring dengan masuknya musim kemarau jumlahnya terus bertambah.
Adapun tanaman pangan di area pertanian yang terdampak kekeringan berada di 10 kecamatan yakni Kecamatan Semin seluas 505 hektare, Karangmojo 47 hektare, Ngawen 285 hektare, Girisubo 6 hektare, Ponjong seluas 10 hektare. Sedang untuk Kecamatan Patuk seluas 154 hektare, Kecamatan Wonosari seluas 2 hektare, Kecamatan Playen 50 hektare, Kecamatan Gedangsari 860 hektare dan Kecamatan Nglipar seluas 8 hektare.

Sementara untuk terdampak kekeringan terparah terjadi di Kecamatan Gedangsari, Semin dan Ngawen yang luasnya mencapai di atas ratusan hektare. “Sedang wilayah terdampak paling kecil di Wonosari dengan cakupan lahan puso dua hektare,” imbuhnya dikutip krjogja.

Menurutnya, fenomena terjadinya lahan puso tidak lepas dengan fenomena anomali cuaca yang terjadi pada saat ini dan sebenarnya sudah terlihat sejak akhir tahun lalu, dimana musim hujan datang terlambat. Sementara itu, musim kemarau datang seperti biasa sehingga memperpendek masa turun hujan.

Hal ini pun berdampak terhadap lahan pertanian warga di musim tanam kedua yang banyak menyebabkan lahan persawahan mengering karena minimnya pasokan air. Memang pada musim tanam kedua ada yang mengalami panen, tetapi di sisi lain ada lahan pertanian yang mengering karena pasokan airnya berkurang.

“Terdapat puluhan hektare tanaman pangan berhasil diselamatkan dengan cara dialiri air dari sumursumur yang ada di ladang maupun sawah,” ucapnya. (fis)
Reaksi: 

Berita Terkait

news 3272294821524658943

Terbaru






close





Populer

Comments




item