Anak Buruh Bangunan Diterima di Teknik Nuklir UGM


RAKHMAT Eko Saputro (18) merupakan satu dari ribuan anak bangsa yang lahir dari keluarga kurang mampu. Kendati begitu, ia berhasil membuktikan keterbatasan ekonomi tidak menjadi halangan untuk kuliah di UGM.

Rasa haru bercampur bahagia pun dirasakan keluarga Amnidi (53) tatkala mengetahui putera sulungnya, Rakhmat Eko Saputro diterima kuliah di prodi Teknik Nuklir Fakultas Teknik UGM. 

Dia dan isterinya Ermida (46) tidak pernah menyangka anaknya bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi bahkan tanpa dipungut biaya hingga lulus dengan beasiswa bidikmisi.

“Kaya gak percaya bisa sampai seperti ini, saya yang buruh bangunan dan hanya lulusan SMP akhirnya bisa melihat Eko masuk kuliah,” ungkapnya, saat ditemui tim Humas UGM di rumahnya di Batam, Kepulauan Riau seperti dikutip bernas.id Senin (1/7/2019).

Sebelum tinggal di rumah itu, Amnidi dan keluarganya menghuni rumah liar atau yang kerap disebut ruli yang berada daerah Muka Kuning Kampung Ace, Batam. Namun pada tahun 2006 kawasan tersebut dilanda banjir besar yang turut merubuhkan rumah kayu yang ditempatinya. 

Sementara tinggal di pengungsian, Amnidi secara bertahap membangun rumah sederhana diatas lahan 10x10 meter.

“Saya bangun sendiri rumah ini sedikit demi sedikit,” jelasnya.

Amnidi menuturkan menyekolahkan anak hingga jenjang perguruan tinggi bukanlah hal yang mudah ditengah keterbatasan perekonomian keluarga. Penghasilannya dari bekerja sebagai buruh bangunan sekitar Rp3 juta  per bulan sangatlah pas-pasan untuk menghidupi isteri dan dua puteranya.

“Jadi buruh bangunan kerjanya ya gak tentu, tergantung proyek. Kalau ada proyek ya kerja kalau tidak ada ya dirumah saja,” jelasnya.

Bahkan dia pernah merasakan kerja namun tidak dibayar. Kerja keras yang diniatkan untuk menghidupi keluarga kecilnya itu serasa tidak berguna. 

“Pernah ikut proyek tapi mandornya kabur jadinya duit gak keluar dan gak bayaran. Risiko kerja ikut orang seperti itu,” katanya.

Amnidi berkisah dirinya pernah menganggur hingga dua bulan lamanya. Sementara saat itu dia harus membiayai anak bungsunya yang akan masuk SMP. Momen itu menjadi masa berat baginya. 

Namun Tuhan tidak pernah tidur, selalu ada jalan yang dibukakan bagi para hambanya yang selalu berusaha.

Di tengah kondisi yang serba sulit, Eko berhasil meraih juara pertama tingkat provinsi Kepulauan Riau dalam Olimpiade  Astronomi 2018 dan menjadi wakil untuk berlaga di tingkat nasional. Prestasi itu membawa kebanggaan bagi keluarga dan daerahnya.  

“Menang lomba Eko dapat uang saku dan itu digunakannya untuk membantu membiayai keperluan adiknya masuk SMP,” ucapnya menahan haru.

Amnidi menuturkan Eko merupakan anak yang berprestasi di sekolah. Saat SD selalu rangking 1 dan SMP serta SMA masuk 3 besar di kelas. Selain itu juga mengikuti sejumlah perlombaan yang diadakan oleh berbagai institusi.

Beberapa prestasi yang tercatat antara lain juara 3 porseni puisi tingkat Kota Batam 2015,  juara 1 debat agama Islam tingkat provinsi Kepulauan Riau 2018, juara 3 nasional dalam kompetisi riset di ITB 2018, dan juara 1 olimpiade astronomi tingkat Kepulauan Riau 2018.

Ketika ditemui di kediamannya Amnidi hanya seorang diri. Sang isteri saat itu tengah berada di Singapura. Isterinya bekerja serabutan membantu memasak dan mencuci piring di sebuah restoran yang ada di Singapura.

“Ini isteri sedang di Singapura, 2 minggu disana bantu kerja di restoran,” katanya.

Sementara itu Eko sudah berada di Yogyakarta sejak sebelum bulan puasa. Selama kuliah nantinya anaknya akan menumpang di rumah sang bibi hingga lulus kuliah.

Amnidi berharap nantinya Eko bisa menjalani kuliah dengan lancar dan lulus tepat waktu. Hanya iringan do’a yang bisa dia berikan untuk kesuksesan anaknya kelak.

“Belajar yang benar dan tidak usah pulang sebelum berhasil. Kami disini selalu berdoa agar kuliah bisa lancar dan nantinya menjadi orang sukses,” ucapnya.

Sebelumnya saat ditemui di Kampus UGM, Eko mengaku keinginan untuk bisa kuliah telah ada sejak kecil. Karenanya dia tekun belajar agar bisa berprestasi dan akhirnya dapat masuk UGM lewat jalur SNMPTN Undangan dan mengajukan beasiswa bidikmisi sehingga bisa meringankan beban keluarga.

“Pengen kuliah sudah sejak SMP dan orang tua sebenarnya mendukung. Kendalanya kami ini hanya dari keluarga yang biasa-biasa saja  sementara biaya kuliah sangat besar,” tutur alumni SMA 1 Batam ini.

Namun pengagum karya-karya Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono ini tidak pernah patah arang. Dengan segala keterbatasan keluarga dia terus berjuang menggapai mimpi-mimpinya. Tak sekalipun merasa malu atau pun berkecil hati dengan keadaanya saat ini.

“Saya tidak pernah minder meski bapak buruh bangunan. Justru sangat bangga bapak yang buruh bangunan bisa menyekolahkan saya sampai ke UGM, ini luar biasa,” katanya penuh kebanggaan.

Ketekunannnya dalam belajar dan doa orang tua akhirnya berbuah manis. Apa yang dicita-citakan Eko akhirnya terwujud. 

“Jangan pernah menggapai mimpi, kalau kita sungguh-sungguh pasti akan ada jalan,” tandasnya. (kul)
Reaksi: 

Berita Terkait

daerah 114029193063600408

Terbaru






close





Populer

Comments




item