Profit Oriented PLN Melahirkan Black Out


SAAT ini, istilah Black Out menjadi tidak asing lagi di telinga masyarakat awam sejak listrik padam total pada hari minggu lalu (04/08/2019). Dalam kamus Bahasa Indonesia istilah Black Out dapat diartikan sebagai: 1 penggelapan. 2 penghentian, gangguan. 3 hilang / tak sadar, Tetapi, istilah Black Out dalam dunia kelistrikan adalah padam total. Dimana, hilangnya seluruh sumber tenaga pada suatu sistem tenaga listrik. Dan, listrik di Indonesia dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara PLN (Perusahan Listrik Negara).

Salah satu misi PLN adalah menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait. Dan,  maksud serta tujuan PLN adalah untuk menyelenggarakan usaha penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum dalam jumlah sekaligus mutu yang memadai serta memupuk keuntungan dan melaksanakan penugasan Pemerintah di bidang ketenagalistrikan dalam rangka menunjang pembangunan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

22 tahun lalu (1997), Black Out system Jawa-Bali juga pernah terjadi. Dan, pemadaman listrik juga pernah terjadi pada September 2018. Tetapi, kejadian itu merupakan Black Out parsial dengan 1 wilayah yang berdampak, yakni wilayah Jawa timur. Termasuk juga, SUTET 500 KV. Sementara, Black Out yang terjadi pada hari minggu lalu, terdapat 3 wilayah terdampak secara serentak.

Pada system Pembangkit Interkoneksi atau pembangkit yang saling terhubung satu sama lain,  Jika, ada salah satu pembangkit jatuh maka pembangkit yang lain harus memikul beban pembangkit yang jatuh tersebut. Karena beban yang berlebih maka pembangkit lainnya juga ikut jatuh. Seperti halnya, ada beban 10 ton yang harus dipikul 10 orang kuat yang masing-masing mampu memikul beban seberat 1 ton. Maka, beban 10 ton tersebut bisa dipikul bersama. Karena, masing-masing (10 orang kuat) mampu memikul beban10 ton secara bersama-sama. Tetapi, jika salah 1 orang kuat tersebut jatuh tak sadarkan diri maka 9 orang sisanya akan memikul beban diluar daripada kemampuannya. Pada akhirnya, satu persatu orang kuat itu akan berjatuhan bila tetap memaksakan untuk memikul beban 10 ton tersebut. Jadi, salah satu penyebab padamnya listrik karena ketidaksiapan pembangkit listrik itu sendiri.

Dalam keadaan darurat seperti tertulis diatas, Load Shedding (pelepasan beban) dapat dilaksanakan. Kondisi daruratnya adalah ketika system sedang beroperasi normal, dan tiba – tiba pasokan untuk memenuhi kebutuhan listrik menjadi berkurang karena gangguan yang muncul baik dari akibat force majour, human error atau akibat dari gangguan pada pembangkit listrik itu sendiri. Load Shedding atau pelepasan beban merupakan metode yang harus dilakukan oleh penyedia layanan suplai energy listrik (PLN) untuk mengurangi permintaan beban pada system pembangkit listrik untuk waktu sementara dengan mematikan distribusi energi listrik atau melakukan pemadaman sementara pada wilayah tertentu. Dan, load shedding merupakan pilihan terakhir yang harus dilakukan ketika semua upaya lain untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan gagal, sehingga dapat mencegah shutdown nya seluruh jaringan yang untuk pemulihannya (recovery) akan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Mari kita tinggalkan persoalan teknis berkaitan dengan Black Out system. Karena, akan menjadi sangat panjang dan lebar jika kita urai satu persatu. dan, kita bukan saja hanya membahas soal Load Shedding atau Back Up System lainnya serta teknis system prosedur yang menjadi standart penanganan sekaligus antisipasi teknisnya. Tetapi, banyak hal lain diluar daripada persoalan teknis yang harus kita urai juga secara umum. Oleh karena itu, mari kita coba melihat dari persoalan non teknis.

Pertama-tama, mari kita kita lihat visi PLN yang berbunyi: “Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh kembang, Unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada Potensi Insani.” Jika, mengacu pada visi tersebut maka pimpinan PLN harus berjiwa besar mengakui kegagalan dalam proses mengantisipasi serta menangani kasus Black Out system yang terjadi pada hari minggu lalu, Karena, secara tidak lansung pimpinan PLN beserta jajaran terkait tidak mampu. Dan, gagal mewujudkan visinya.

Tidak salah manusia pintar mencari pembenaran dengan merasionalisasikan bahwa di negara lain juga mengalami Black Out system. Tetapi, jika kita ingin bertumbuh kembang, unggul dan terpercaya maka akan jauh lebih bijak kita membandingkan dengan Negara lain yang jauh lebih maju dari kita dalam penanangan sekaligus antisipasi masalah kelistrikannya. Agar, kita lebih termotifasi untuk lebih maju. Bukan, mencari aman dengan cara mundur kebelakang mensejajarkan diri dengan Negara lain yang gagal.

Kedua, mari kita lihat salah satu misi PLN yang berbunyi: “Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.” Dalam kasus kasus Black Out system ini, jelas pelanggan PLN tentunya tidak akan merasa puas. Jadi, orientasi PLN pada kepuasan pelanggan akan patah dengan sendirinya. Karena, justru yang lebih terlihat jelas PLN itu adalah “Profit Oriented” ketimbang berorientasi pada kepuasaan pelanggan.

Tidak salah manusia pintar berorientasi kepada keuntungan dalam sebuah perseroan. Tetapi, menaikkan tarif dasar harga listrik tanpa disertai dengan pelayanan dan kwalitas SDM serta mutu yang baik akan memperlihatkan semakin jelas bahwa orientasi PLN yang utama hanyalah mencari keuntungan semata. Bukan, memprioritaskan kepuasan pelanggan. Apalagi, untuk menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Dan, mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi sesuai misi PLN sepertinya hanya terkesan sebagai kiasan kata dalam profil PLN. Karena, dalam kasus Black Out system ini semua komponen masyarakat yang dirugikan secara langsung maupun tidak langsung.

Mungkin discount pembayaran listrik yang diberikan PLN adalah kompensasi sebagai solusi untuk menebus kegagalan PLN. Tetapi, sesungguhnya persoalan bukan sesederhana itu. Karena, yang harus dilakukan adalah evaluasi besar ditubuh PLN. Evaluasi besar tersebut juga bukan sekedar mengarah kepada pergantian para pejabat teras PLN yang dinilai gagal. Tetapi, audit segala proyek yang berkaitan dengan pembangkit tenaga listrik juga menjadi salah satu hal penting untuk dilakukan. Sehingga, kita dapat melihat akar persoalan sesungguhnya yang berkaitan dengan kwalitas dan mutu pembangkit tenaga listrik secara terang. Mulai dari pengadaan, perawatan dan peremajaan serta lainnya yang berkaitan dengan kekuatan penghasil energy listrik tersebut.

Kemudian, jajaran pejabat teras PLN yang akan datang diharapkan juga mempunyai jam terbang yang tinggi dari bawah. Mulai dari lapangan, unit, proyek dan mengerti bisnis PLN yang kompleks dari hulu ke hilir, antara lain dibagi menjadi 3 bagian, yaitu Pembangkitan, Transmisi dan Distribusi. Sehingga, kelak mampu mengambil keputusan yang cepat dan tepat berdasarkan pengalamannya. Dan, tidak kalah penting adalah posisi bagian perencanaan PLN yang harus bisa bisa memastikan kasus Black Out system tidak terulang lagi. Apabila, perencanaan dilakukan dengan professional tanpa berorientasi kepada keuntungan semata maka kwalitas produksi yang dihasilkan pasti akan memuaskan. Karena, perawatan dan peremajaan mesin berikut komponennya akan terjaga dan terkontrol secara berkala.

Perlu di ingat, PLN itu masuk dalam katagori perseroan vital. Dan, PLN tidak bisa secara serta merta dapat disamakan fungsi serta perannya dengan BUMN lainya seperti BANK yang cara berpikirnya mencari laba sebesar-besarnya dari para nasabah maupun pihak lainnya dengan tawaran credit atau bunga deposito serta lainnya untuk mengeruk keuntungan. Karena, jika Bank tidak beroperasi selama1 hari penuh tidak akan berdampak luas bagi masyarakat. Tetapi, jika PLN tidak bisa beroperasi 1 hari penuh. Maka, akan berdampak sangat luas bagi masyarakat. Oleh karena itu, cara berpikir profit oriented PLN seharusnya bukan ditempatkan pada urutan pertama. Jika, pola pikir profit oriented PLN tetap dipertahankan pada urutan pertama. Maka, PLN secara tidak langsung sudah menggeser fungsi serta perannya sebagai perseroan vital bagi Negara. Dan, di luar dari masalah teknis persoalan Black Out system, maka profit oriented secara tidak langsung mempunyai potensi melahirkan kasus Black Out system.

Penulis adalah Haidar Alwi Alumni S1 & S2 Tehnik Elektro ITB dan alumnus GE Schenectady New York Bidang Pembangkit
Reaksi: 

Berita Terkait

pilihan 9092770009015946126

Terbaru






close





Populer

Comments




item