Kemenlu Lakukan Outreach Polugri ke Akademisi di Pekanbaru



DIREKTUR Jenderal  (Dirjen) Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Dr. Desra Percaya mengatakan, Indonesia akan mengedepankan prioritas politik luar negeri 4+1 yaitu diplomasi ekonomi, diplomasi perlindungan WNI, diplomasi kedaulatan, dan peran Kepemimpinan RI ditingkat regional dan global, serta penguatan infrastruktur diplomasi.

Untuk itu, kata Desra, dirinya mengajak  mahasiswa-mahasiswa fakultas HI, Hukum dan fakultas lainnya dari berbagai Universitas di Pekanbaru untuk mendaftar ke Kemlu.

Demikian dikatakan Dr. Desra Percaya dalam sambutannya di Kuliah Umum dihadapan Rektor Universitas Islam Riau (UIR) Prof Dr H Syafrinaldi, SH, MCL dan sekitar 250 orang  akademisi dari  UIR, Universitas Riau (UNRI) dan Universitas Abdurrab Pekanbaru pada 26 November 2019, di Pekanbaru, Riau.

“Diplomasi kedaulatan, ekonomi dan perlindungan WNI, peningkatan kontribusi di tingkat kawasan dan global, serta penguatan infrastruktur diplomasi akan menjadi pilar utama Politik Luar Negeri Indonesia ke depan," tutur Desra Percaya.

Menurutnya, penyelenggaraan outreach polugri dilakukan secara reguler dan ke berbagai kampus se Indonesia sesuai arahan Menteri Luar Negeri tanggal 11 Oktober 2019.

"Sejak itu Kemlu telah melakukan outreach ke Samarinda di Universitas Mulawarman dan ke Manado di Universitas Sam Ratulangi di Manado pada bulan Oktober hingga November 2019 dan kali ke Pekanbaru," jelasnya.

Sosialisasi kerja sama kawasan Asia Pasifik yang dilaksanakan di UIR Pekanbaru ini juga dimanfaatkan oleh FISIP UIR untuk meningkatkan hubungan kerjasama dengan Kementerian Luar Negeri melalui penandatangan Nota Kesepahaman (MoU). Selain itu, kunjungan Dirjen Aspasaf dan delegasi Kemlu untuk pertama kalinya ke kampus UIR ini juga didaulat untuk meresmikan Pusat Studi Asia Timur dan Asia Tenggara.

Sebagai informasi, Indo-Pasifik yang membentang dari Samudera Hindia hingga Samudera Pasifik telah menjadi suatu kawasan dengan nilai strategis yang terus meningkat.

Hal ini seiring dengan potensi besar yang dimiliki termasuk sebagai pusat kemajuan teknologi dan inovasi dan dengan ukuran ekonomi 62% dari GDP dunia. Namun, Indo-Pasifik juga menghadapi tantangan termasuk rivalitas negara-negara besar yang mengusung konsep aristektur masing-masing.

Pulau Sumatera, menurut narasumber Direktur KSIA Aspasaf, Andre Omer Siregar, sangat strategis dalam konteks regional architecture karena langsung berhadapan dengan kawasan lain di Asia sehingga memiliki nilai geopolitik yang tinggi dan konsep Indo Pasifik makin mempertegas posisi tersebut.

Namun demikian, faktor-faktor lain yang mendukung penerimaan konsep Indo Pasifik yang diusung oleh Indonesia yaitu keaktifan Indonesia dalam berbagai fora internasional seperti Dewan Keamanan PBB dan Dewan HAM serta forum lain seperti OKI dan GNB yang menciptakan kepercayaan tinggi masyarakat Internasional pada Indonesia.

Andre juga memberikan perkembangan mengenai peran Indonesia di DK PBB yang dipercaya menjadi Presiden DK PBB dua kali dalam masa keanggotaanya yaitu Mei 2019 dan Agustus 2020.

Dalam rangka terus mendorong kerja sama Indo Pasifik, Indonesia akan menyelenggarakan Indo Pacific Infrastructure and Connectivity Forum pada tahun 2020 sebagaimana diumumkan Presiden Joko Widodo pada KTT ASEAN di Bangkok. (fad/tan)
Reaksi: 

Berita Terkait

PERISTIWA 4645168485006107785

Terbaru






close





Populer

Comments




item