Puluhan Calon Pengacara dari P3HI Ikuti Ujian


PULUHAN calon pengacara yang tergabung dalam Perkumpulan Pengacara Dan Penasehat Hukum Indonesia (P3HI) melaksanakan Ujian Profesi Advokat (UPA) di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Minggu (03/11/2019).

 Ujian Profisi Advokat yang disingkat dengan kata UPA menjadi sebuah persyaratan wajib yang harus dijalani para calon pengacara setelah sebelumnya menjalani Pendidikan Profesi Advokat (PKPA). Untuk Ujian Profisi Advokat Perkumpulan Pengacara dan Penasehat Hukum Indonesia disingkat P3HI angkatan Ke-5 ini dilaksanakan di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin dengan di ikuti sebanyak 94 peserta.

Hal ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal Perkumpulan Pengacara dan Penasehat Hukum Indonesia (P3HI) Wijiono, SH, MH dalam relesannya kepada sejumlah redaktur media online, Senin (04/11/2019).

Wijiono menjelaskan, UPA kali ini sudah dalam pelaksanaan yang ke 5 kalinya dengan jumlah terbanyak sejak setahun berdirinya Organisasi Advokat Perkumpulan Pengacara dan Penasehat Hukum Indonesia disingkat P3HI ini. Peserta yang mengkuti Ujian Profisi Advokat (UPA) kali kini di ikuti sebanyak 94 peserta.

"Peserta dari Kalimantan Selatan sebanyak 38 peserta dan peserta dari berbagai proviinsi di luar Kalsel sebanyak 56 peserta," ujar Wijiono menjelaskan dalam relesannya kepada berbagai awak media online via WhatsApp.

Wijiono mengatakan, peserta yang mengikuti UPA saat ini di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin adalah gabungan antara peserta yang mengikuti PKPA disaat dilaksanakan tanggal 26-31 Oktober 2019 di Aula Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin dan peserta PKPA yang dilaksanakan di beberapa Provinsi di lingkup wilayah Indonesia.

Ketua Panitia Pelaksana Ujian Profisi Advokat Perkumpulan Pengacara dan Penasehat Hukum Indonesia (P3HI), H. Wahyu Firmansyah, S.Kom, SH, M.AP mengatakan, sebelum dilaksanakannya Ujian Profisi Advokat (UPA), Panitia dari Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perkumpulan Pengacara dan Penasehat Hukum Indonesia (P3HI) sudah melaksanakan Pendidikan Khusus Profisi Advokat (PKPA), baik di Banjarmasin maupun diberbagai provinsi wilayah Indonesia.

"Sebelumnya saudara-saudaraku peserta UPA ini sudah mengikuti PKPA, baik disini (Aula LPPM ULM) maupun dimasing-masing Provinsi di Indonesia," tutur Wahyu panggilan akrabnya kepada sejumlah redaksi media online, Senin (04/11/2019).

Dijelaskannya saat PKPA tersebut, nara sumber yang berhadir menyampaikan materi adalah bapak Prof. Dr. HM. Hadin Muhjad, SH, M.Hum, bapak Ya Muhammad Muhajir, S.Pd, SH, bapak H. Wahyu Firmansyah, S.Kom, SH, M.AP, bapak Wijiono, SH, MH, bapak H. Aspihani Ideris, MH  saudara Dedy Kurniawan, SH dan ibu Dr. Hj. Rahmida Erliyani, SH, MH.

Wahyu panggilan akrab H. Wahyu Firmansyah, S.Kom, SH, M.AP menerangkan, dalan UPA yang dilangsungkan kemaren, para calon advokat untuk menjadi seorang advokat di sajikan soal-soal berkaitan dengan materi PKPA yang dilaksanakan seperti 1).Sejarah dan Kode Etik Profesi Advokat; 2).Legal Audit, Legal Opiniun, Due Diligence, Legal Reasoning; 3).Implementasi Hukum Islam; 4).Upaya Hukum dan Eksekusi; 5).Hukum Acara Pidana dan Acara Perdata; 6).Hukum Acara PTUN; 7).Hukum Acara Pengadilan Hubungan Industrial, dan 8).Praktek Peradilan Semu.

Lebih lanjut Dian menerangkan, materi ujian dibagi dalam 2 sesi, mulai multype choice (pilihan ganda), hingga materi essay (pengisian). Jenis pertanyaan di essaypun cukup beragam, setiap peserta dituntut bisa memahami kode etik, contoh kasus, membuat hukum acara hngga membuat surat gugatan, tukas Wahyu.

Senandung nada juga di sampaikan Wakil Ketua Umum Perkumpulan Pengacara dan Penasehat Hukum Indonesia (P3HI), Dedy Kurniawan, SH, jika RTO atau Refreshment and Try Out sengaja dirancang disela-sela PKPA yang sudah dilaksanakn guna memaksimalkan seleksi ketat Ujian Profisi Advokat.

“Para bakal calon advokat, mereka wajib diwajibkan menjalani beberapa tahapan seperti yang diatur UU Advokat No 18/ 2003. Seperti mengikuti PKPA, Ujian Profisi Advokat (UPA) dan Magang. Setelah seluruh syarat ini terpenuhi, baru berhak di ambil dilantik dan di ambil sumpah menjadi Advokat. Proses ini tidak gampang, sehingga perlu dipersiapkan dan penuh kesabaran sesuai prosedur mekanisme organisasi P3HI,” papar Dedy yang merupakan salah satu nara sumber PKPA P3HI kepada sejumlah wartawan, Senin (4/11/2019).

Dedy berkata, jika merujuk pengalaman angkatan UPA sebelumnya, cukup banyak yang tidak berhasil lulus UPA. “Ini yang membuat kami menjadi lebih mawas dan harus serius menyiapkan diri menghadapi seleksi ketat UPA. Walaupun ada kami berlakukan HEr dlam mencetk ujian akhir yang telah terjawab," tukas Dedy.

Dijelaskannya, meskipun saat PKPA telah banyak materi yang diperoleh, baik dari akademisi dan praktisi bahkan juga berkesempatan menjalani ujia coba soal (Try Out), suguh pengacara dan advokat asal Kalimantan Utara ini membeberkan.

Namun pun demikian ucap Dedy, berharap kawan-kawan yang telah lulus upa bisa kami ajak bersinergi praktek dilapangan kepada para senior yang telah menjalankan praktik dilapangan. (asp/fika)
Reaksi: 

Berita Terkait

daerah 7520808656805499810

Terbaru






close





Populer

Comments




item